Posts filed under ‘berita’
Zaskia dan Aib Sinetron Religi
Berkat perannya di sejumlah tayangan bernuansa religi itu, para pemirsa dan pengagum mengenal Zaskia sebagai sosok perempuan salehah. Penilaian itu wajar ketika kita menghubungkan dengan perannya di “Kiamat Sudah Dekat” sebagai “Sarah” yang pandai mengaji. Para fans pun tentunya menduga dan berharap bahwa apa yang diperankan idolanya dalam sinetron sejalan dengan perilaku kesehariannya.
Tapi image Zaskia kemudian justru dibantah sendiri oleh infotaiment yang selama ini telah turut serta membesarkan namanya. Dalam Bibir Plus pagi di SCTV dikabarkan Zaskia tengah pesta rokok di lokasi Syuting ditemani kekasihnya Hanung Bramantyo dan teman syutingnya, Baim Wong. Foto-foto Zaskia yang tengah merokok pun kini telah beredar luas di internet.
Kabar miring Zaskia itu akan mengejutkan siapa saja yang selama ini mengenalnya lewat layar kaca. Anda barangkali akan bilang, Zaskia ternyata tak ubahnya sejumlah selebritis lain yang manis di depan kamera tapi perilakunya liar ketika di luar tuntutan perannya.
Lepas dari kesahihan gosip infotainment dan gambar yang beredar di internet, masyarakat tak perlu memberikan reaksi yang berlebihan. Dalam dunia peran, siapapun bisa menjadi apa yang diinginkan oleh sang sutradara. Dan kebetulan saja Zaskia dianggap lebih pas, atau dalam istilah pasar lebih marketable, untuk memerankan sosok muslimah yang salehah. Di luar itu, Zaskia punya otoritas penuh untuk menjalani kehidupannya sendiri.
Sikap semacam itu penting untuk menghindarkan sentimen kita terhadap simbol agama dan perilaku –kalau merokok bagi perempuan, apalagi dia berjilbab dianggap– menyimpang sang penyandang atribut. Saya tidak sedang mempermasalahkan Zaskia yang mengenakan jilbab dan oleh karenanya ia tak boleh merokok. Tapi ingin menunjukkan betapa hebatnya media membangun citra seseorang, dalam hal ini Zaskia Adya Mecca.
Jika karena ulah FPI yang mengenakan pakaian jubah putih dan menggunakan nama Islam, namun dalam aksinya kerap melakukan kekerasan, lantas kita mencurigai setiap orang yang kita jumpai berpenampilan layaknya FPI sebagai ancaman. Jika demikian halnya, maka efek dari Zaskia yang kedapatan merokok itu akan menjadikan kita menanam curiga kepada setiap perempuan yang berjilbab dengan anggapan negatif.
Kondisi yang sama, sikap sejumlah negara barat yang demam terhadap islam sebagai akibat gerakan sejumlah kalangan muslim –yang disebut barat- fundamentalis yang dianggap akan mengancam perdamaian dunia. Meski dalam satu pihak kalangan muslim itu menganjurkan kekerasan dalam perjuangannya, namun kekerasan itu sebenarnya juga sebagai reaksi atas sikap barat sendiri yang banyak mencampuri negara lain, termasuk negara muslim.
Sikap kita yang mencurigai setiap orang yang berjubah, dan juga negara barat yang demam terhadap Islam, sebagai akibat cara pandang yang menempatkan simbol dan atribut di atas perilaku orang perorangnya. Yang kita pandang adalah jubahnya, yang membuat demam adalah orang islam yang melakukan kekerasan. Padahal jubah itu putih, islam itu damai.
Efek Pencitraan
Kembali ke Zaskia, pembangunan citra bagi seorang aktris itu penting. Ia menjadi semacam bumbu penglaris untuk menguatkan image yang diperankan. Sebagian masyarakat kita tampaknya tak menyadari hal itu. Mereka berharap banyak bahwa sang idola yang mereka kenal lewat layar kaca demikian adanya dalam dunia keseharian. Ekspektasi para fans terhadap idolanya akhirnya berujung dengan kekecewaan ketika mereka mengetahui jika sang idola cuma tampil manis di layar kaca, tapi tidak demikian halnya dalam dunia nyata.
Zaskia tak salah. Mau merokok atau menjadi pelacur sekalipun itu adalah haknya. Tapi tentu ia akan menyadari bahwa dengan terkuaknya aib itu akan menjadi batu sandungan bagi karirnya. Bisa saja ia akan dengan sekuat tenaga menutupi, mengelak, tapi tampaknya juga akan percuma.
Ibarat barang dangangan, brand bernama Zaskia telah cacat. Kelalailan atau kecolongan dalam menjaga citra produk yang dijualnya sungguh sebuah kesalahan yang fatal, tentu saja jika dilihat dari sisi pemasaran. Segmen pasar yang telah dibidik selama ini telah keruh.
Jika pun fans akhirnya menghujat dan memilih meninggalkan Zaskia, itu bukan salah mereka. Tidak bijak juga kita menyebut mereka sebagai penonton tidak dewasa. Audiens film dan sinetron di negeri ini sebagain besar tampaknya masih melihat figur di belakang aktor, bukan semata karena kematangan berakting. Tapi jangan lupa, mereka juga yang telah turut melariskan sinetron dan film bercorak religius yang booming belakangan ini. Meski ada juga yang menikmati akting Zaskia dan aktor lainnya dalam film tanpa peduli kesehariannya.
Tapi jika itu benar, dan Zaskia berbohong untuk menutupi kenyataan itu, maka akan percuma saja. Jika kabar miring itu benar, katakan saja apa adanya. Pengakuan Zaskia meski pahit akan membantu publik penikmat sinetron dan film di negeri ini menempatkan posisinya. Dari kejadian ini, setidaknya masyakat kita bisa belajar banyak untuk menjadi lebih kritis dan lebih arif dalam menyikapi setiap tayangan atau peristiwa yang disampaikan lewat media.
Bagi saya pribadi, apapun yang terjadi pada Zaskia, selama dia bisa menunjukkan aktingnya dengan baik, tidak sekadar bintang karbitan yang dipoles untuk memenuhi keinginan pasar, Zaskia akan tetap anggun dengan jilbabnya.
50 Ha Hutan Pantai di Kebumen Mati Kekeringan
Kebumen, CyberNews. Sebanyak 22.000 tanaman di areal hutan pantai seluas 50 hektare Desa Tambakmulyo, Kecamatan Puring mati akibat kekeringan. Padahal saat ini program rangkaian gerhan itu telah menelan dana Rp 75 juta. Rencananya pemerintah menaggarkan dana sebesar Rp 83 juta untuk program pembuatan hutan pantai di wilayah itu.
Dari 22.000 tanaman yang kekeringan tersebut, sebanyak 11.000 di antaranya tanaman cemara laut dan sisanya berupa tanaman nyamplung dan ketapang. Dari jumlah tersebut, 85 persen diantaranya sudah mati kekringan. Dipastikan sisinya akan menyusul, karena dalam dua minggu terakhir, penyiraman tidak dilakukan karena tidak ada dana.
“Tanaman cemara laut sudah hampir mati semuanya, sedang nyamplung dan ketapang sekitar 60 persen sudah mati,” kata Kades Tambakmulyo, Supartu, Jumat (27/6).
Dari catatan Suara Merdeka, program hutan pantai merupakan rangkaian program gerakan rehabilitasi hutan dan lahan (gerhan) yang lokasinya meliputi tiga kecamatan yaitu Puring, Petanahan dan Klirong. Adapun total luas lahan yang ditanami tiga jenis tanaman itu adalah 287,5 hektare.
Pemilihan bibit yang tidak sesuai dengan cuaca dan iklim panas di pantai, kata dia, membuat tanaman mati kekeringan. Faktor lainnya, desanya menerima bibit setinggi 20 cm. Padahal daerah lain menerima bibit setinggi satu meter.
Saat ini, kata dia, penyiraman terpaksa menyusul dana pemeliharaan dari Dinas Perhutanan dan Pengendalian Dampak Lingkungan (Disperhutdal) belum bisa cair. “Dana pemeliharaan yang belum turun sebesar Rp 8 juta,” katanya sembari menuturkan jika dana sisa pemeliharaan sebesar Rp 8 juta turun, akan dibagikan kepada dua kelompok tani di wilayahnya.
Kabid Konservasi Hutan dan Lahan Disperhutdal Kebumen, Ir Gunadi mengatakan pihaknya tengah berupaya mengadakan tambal sulam tanaman yang sudah telanjur mati. Dananya diambilkan dari APBD, mengingat selama ini program itu bersumber dari APBN. Namun begitu, Gunadi mengatakan,secara umum pembuatan hutan pantai di Kebumen berhasil. “Hanya di Tambakmulyo saja yang kekeringan, yang lain tumbuh dengan bagus,” ujarnya.
Soal anggaran yang belum turun, Gunadi mengatakan dana tersebut tetap akan turun. Sebab, dana pemeliharaan itu sudah merupakan hak petani. “Dari awal, pembuatan hutan pantai ini, kata Gunadi, bertujuan meningkatkan kesejahteraan warga setempat. Sekaligus sebagai penahan abrasi dan interusi,” katanya.
(Supriyanto /CN08)
Jerman menang dari Turki
TEMPO Interaktif, Jakarta: Mantan kapten tim Jerman, Lothar Matthaeus, yakin “Der Panzer” akan memenangkan pertandingan melawan Austria, sekaligus lolos ke perempat final.
Matthaeus, yang membawa Jerman merebut Piala Dunia 1990, mengatakan Austria akan kalah 2-0 dari Jerman. Dalam sejarah pertemuan kedua negara, Austria pernah membuat kejutan di Stadion Cordoba dalam ajang Piala Dunia 1978. Kala itu, Austria menang atas Jerman Barat 3-2.
“Pemain Jerman lebih baik dari pemain Austria mandul mencetak gol dua dalam pertandingan sebelumnya. Tidak ada lagi memori Cordoba. Jerman akan menang di Wina dan lolos ke ronde berikutnya,” tutur Matthaeus, berkilah.


